Islamnya Bilal bin Rabah Al-Habsyi ra. dan Penderitaanya

Written By Maktabatun on Sabtu, 25 Juni 2011 | Sabtu, Juni 25, 2011

Bilal Al-Habsyi adalah seorang sahabat yang masyhur. Ia adalah muadzin masjid Nabawi. Pada mulanya, ia adalah seorang budak milik seorang kafir. Kemudian, ia memeluk Islam sehingga menyebabkan ia menerima berbagai siksaan. Umayyah bin Khalaf adalah orang kafir yang paling keras memusuhi Islam. Ia membaringkan Bilal di atas padang pasir yang sangat panas di terik matahari sambil meletakkan batu besar di dadanya sehingga Bilal sulit bergerak. Lalu dikatakan kepadanya, '' Apakah kamu mau mati seperti ini, atau tetap hidup dengan syarat kamu tinggalkan Islam ?'' Tetapi , ia mengucapkan , '' Ahad...Ahad...Ahad...'', bahwa yang harus disembah adalah Allah swt. Pada malam hari ia dirantai dan dicambuk terus-menerus sehingga badanya penuh luka. Dan pada siang hari , dengan luka tersebut, ia dijemur kembali di padang pasir yang panas sehingga lukanya semakin parah. Tuannya berharap ia akan meninggalkan Islam atau mati pelan-pelan dengan cara itu. Orang yang menyiksa Bilal ra. bergantian, kadang-kadang Abu Jahal, kadang-kadang Umayah bin Khalaf, bahkan orang lain juga ikut menyiksanya. Mereka berusaha menyiksanya dengan lebih berat. Ketika Abu Bakar ra. melihat hal itu, beliau menebusnya kemudian langsung memerdekakannya.

------------------------

Orang-orang Arab musyrik telah menjadikan berhala sebagai sesembahan mereka. Sebagai lawannya , Islam mengajarkan ketauhidan kepada Allah swt. Inilah yang menyebabkan dari lisan Bilal ra. selalu terucap ,'' Ahad... Ahad...!'' Hal ini terjadi karena hubungan dan kecintaannya yang tinggi terhadap Allah swt. Sekarang, kita banyak melihat cinta yang palsu . Lihatlah bagaimana cinta Bilal ra. kepada Allah swt. Cinta itulah yang menyebabkan ia rela disiksa sehingga penderitaan demi penderitaan menimpanya. Meskipun para pemuda kafir Mekkah mengiringinya di jalan-jalan sambil menghinanya, ia tetap mengucapkan,'' Ahad... Ahad...!'' Inilah kehidupan yang pernah ia alami hingga Nabi saw. menjadikannya muadzin yang selalu berkhidmat mengumandangkan adzan. Setelah Nabi saw. wafat, ia tetap tinggal di Madinah Thayyibah. Tetapi ia tidak tahan melihat tempat Rasulullah saw. yang telah kosong sehingga ia berniat untuk menghabiskan sisa hidupnya untuk berjihad, dan selama beberapa lama ia tidak kembali ke Madinnah.

Suatu ketika, ia mimpi berjumpa dengan Nabi saw. Nabi saw. berkata, ''Wahai Bilal, betapa zhalimnya sehingga engkau tidak menziarahiku.'' Begitu bangun dari mimpinya, ia segera pergi menuju Madinnah. Setibanya disana, Hasan dan Husain ra. memintanya mengumandangkan adzan. Ia tidak dapat menolak permintaan orang-orang yang sangat dicintainya itu. Ketika ia mulai mengumandangkan adzan, terdengarlah suara adzan seperti pada masa Rasulullah saw. Suara itu sangat menyentuh hati orang yang mendengarnya sehingga para wanita keluar dari rumah-rumah mereka dengan meneteskan air mata. Ia tinggal selama beberapa hari di Madinah, lalu kembali ke Damsyik, dan wafat pada tahun ke-20 Hijrah. (Asadul Ghabah)
Blog, Updated at: Sabtu, Juni 25, 2011

Pengikut

Pengikut